Tim Siswa Indonesia Raih Penghargaan di Intel International Science and Engineering Fair (ISEF) 2015, AS

Dua tim siswa Indonesia, yang terdiri dari I Kadek Sudiarsana dan I Dewa Gede Ary Palguna serta Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan, berhasil meraih penghargaan bergengsi dalam bidang sains dan rekayasa di ajang Intel International Science and Engineering Fair (ISEF) 2015, yang diadakan di Pittsburg, Pennsylvania, Amerika Serikat, pada 10-15 Mei lalu.

Kedua tim menyisihkan sekitar 1.700 siswa peserta dari kompetisi yang diselenggarakan oleh Society for Science and the Public bersama Intel Corporation itu. Mereka meraih peringkat ke-4, masing-masing dalam bidang ilmu material dan matematika.

I Kadek Sudiarsana dan I Dewa Gede Ary Palguna dari SMA Bali Mandara meraih penghargaan berkat karya ilmiah dalam bidang matematika yang berjudul “The Motifs Development of Grinsing Sarong”.

“Kebanyakan peserta di bidang matematika karyanya matematika murni. Kalau kami, matematika untuk melestarikan kebudayaan,” kata Sudiarsana.

Sudiarsana dan Palguna menganalisis motif kain grinsing khas Bali. Pola kain grinsing diubah menjadi sebuah fungsi matematika. Mereka kemudian menurunkannya sehingga memperoleh fungsi baru yang bisa dikonversi menjadi pola baru.

“Kain grinsing ini polanya monoton, itu-itu saja. Pembuatnya sekarang juga semakin sedikit, tinggal 15 orang. Kalau tidak dilestarikan dan tidak ada inovasi, maka kain itu akan punah,” ungkap Sudiarsana.

Sementara itu, Luca Cada Lora dan Galih Ramadhan dari SMAN 1 Surakarta meraih penghargaan berkat inovasi metode dalam mengolah limbah logam berat dengan memanfaatkan abu vulkanik dari Gunung Kelud.

“Kami tidak langsung mendapatkan abu vulkanik dari Gunung Kelud, tetapi dari depan rumah. Abu sampai rumah kami saat Kelud meletus tahun 2014,” kata Luca yang membawa karya berjudul “Packed VolcAsh, an Inorganic Nature of Heavy Metals Absorbent”.

Dalam kompetisi Intel ISEF, Luca dan Galih mengaplikasikan metode temuannya menjadi sebuah alat sederhana yang berfungsi mengikat logam berat, seperti spons. Cukup mengalirkan air limbah ke alat itu, maka logam berat akan menempel bak magnet, tak ikut mengalir ke lingkungan.

Ke depan, Luca dan Galih berencana untuk mematenkan metodologi pengolahan logam berat itu. Mereka juga akan mengoptimalkan peran abu vulkanik dan menyaring logam berat serta terus mengembangkan alatnya.

Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Achmad Jazidie menuturkan, “Grand Awards ini membuktikan bahwa Indonesia tidak kalah dengan negara lain. Ke depan, pemerintah ingin mendorong remaja untuk berprestasi dalam ajang internasional.”

Luca dan Galih merupakan peserta Lomba Karya Ilmiah Remaja LIPI yang diadakan pada tahun 2014 lalu. Sementara itu, Sudiarsana dan Palguna merupakan pemenang Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2014.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar