Inilah yang Terjadi Ketika Orang Indonesia Pertama Mendengar Radio

HARI ini, 11 September diperingati sebagai Hari Radio. Sandarannya adalah ketika Radio Republik Indonesia (RRI) pertamakali siaran pada 11 September 1945. 

Nah, yang menarik adalah cerita ketika pesawat radio pertama masuk Indonesia. Orang-orang sempat bingung dan saling bertanya, “suara dari mana ini...?”   

Pura Mangkunegaran, Solo, 11 Maret 1927. Ir Sarsito terlihat asyik dengan sebuah radio tombstone merek Philips seri 703 A. 

Di tengah kepungan sekian pasang mata, Sarsito putar-putar tuning mencari baris gelombang. Penuh kehati-hatian. 

Tiba-tiba, terdengar suara bersuit-suit sangat keras. Terkadang menggelegar bagai geluduk. Tapi lebih sering menggero macam harimau mengaum. “Maka terkejutlah sekalian pendengar karena ketakutan,” tulis SRV Gedenkboek, 1936.

Sejurus kemudian, Sarsito menemukan gelombang yang selaras. Terdengar suara orang berkata-kata. 

Sekali pun hanya berbisik-bisik, sekalian pendengar senang dan tertawa. Ketika mendengar suara musik yang tiada ketahuan siapa yang memainkannya, tercenganglah mereka. 

Itulah kali pertama orang-orang di Pura Mangkunegaran melihat dan mendengar radio.

Hadiah Belanda

Radio tombstone merek Philips seri 703 A yang dimainkan Ir. Sarsito itu pemberian tuan kumpeni kepada Sri Mangkunegara VII, beberapa hari sebelumnya. 

Tujuannya untuk memuluskan percobaan siaran radio gelombang pendek--shortwave atau SW--melalui pemancar PCJ dari laboratorium Philips di Eindhoven ke Hindia Belanda.

Dan penguasa Pura Mangkunegaran itu mempercayakan Ir Sarsito melayani radio itu. 

Siaran percobaan dari Belanda ke Hindia Belanda (kini Indonesia) tersebut, sebagaimana dicuplik dari situs Radio Nederland Wereldomroep, dilakukan ketika almanak bertanggal 11 Maret 1927.

Dua puluh hari kemudian, Ratu Wilhelmina menyapa rakyat di wilayah koloninya dari laboratorium radio Philips. 

Siaran internasional yang dipancarkan secara live pada 31 Maret 1927 itu berhasil ditangkap di Australia, Amerika Latin, Afrika dan Asia Tenggara, termasuk di Pura Mangkunegaran, Surakarta.

“Malam itu orang-orang di Pura Mangkunegaran berkumpul di Prangwedanan bersama Mangkunegara VII dan permaisuri Gusti Ratu Timur,” tulis Sarsito dalam Triwindoe Mangkunegoro VII Gedenkboek (1939).  

“Mereka mendengarkan siaran langsung pidato Ratu Wilhelmina. Itu adalah suatu saat yang tak terlupakan,” kenang Sarsito.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar