Muang Jong

Muang jong adalah sebuah ritual adat yaitu mengarungkan sebuah kapal kecil yang berisikan sesajian ketengah laut sebagai wujud rasa syukur dan keselamatan dalam mengarungi lautan. Tradisi ini dilakukan oleh orang laut belitung, yang lebih dikenal dengan nama suku Sawang. Dipimpin oleh kepala suku, ritual ini melalui serangkaian prosesi yang dilaksanakan selama beberapa hari oleh seluruh masyarakat Suku Sawang. Dengan prosesi yang lebih sederhana, ritual muang jong juga dilaksanakan oleh penduduk Desa Tanjung Tinggi di Kecamatan Sijuk. Meskipun dilaksanakan oleh penduduk Melayu pesisir yang bukan keturunan Suku Sawang, ternyata sejarah muang jong di desa ini tidak terlepas dari keberadaan Suku Sawang di masa lalu.

Sebagaimana diriwayatkan dalam cerita tutur setempat, Selamat Laut (Muang Jong) di Desa Tanjung Tinggi bermula dari kejadian di tahun 1941. Ketika itu seorang penduduk desa bernama Kik Cidok membuka lahan perkebunan di Pantai Telok Limau, yang menyebabkan roh-roh jahat penghuni Pantai Telok Limau menjadi murka dan mengacau ke perkampungan. Konon, akibat kejadian ini kampung menjadi rusak dan banyak orang meninggal.

Para pemuka dan tokoh masyarakat Desa Tanjung Tinggi kemudian bermusyawarah dan memutuskan bahwa salah satu dari mereka harus pergi ke Desa Air Batu untuk meminta bantuan seorang dukun bernama Kik Pilok. Dukun Tanjong Tinggi yang pada waktu itu bernama Kik Datang, kemudian meminta Kik Pilok untuk mengadakan selamatan kampong. Kondisi berangsur membaik dan roh-roh jahat menyingkir dari perkampungan ke pinggir pantai, setelah diadakan Selamat Kampong.  Pada waktu itu Pantai Bilik (pantai Tanjung Tinggi sekarang) masih menjadi tempat menetap sementara Suku Sawang yang ketika itu dikepalai oleh Itek dan Dudo.

Menyusul peristiwa tersebut, kepala Suku Sawang datang ke perkampungan dan meminta dukun kampong Tanjong Tinggi untuk melaksanakan Selamat Laut (Muang Jong). Hal ini disetujui oleh tokoh masyarakat Tanjung Tinggi, kemudian diadakanlah Selamat Laut di Pantai Tanjung Bilik. Berbagai sesajian diantar ke tengah laut dengan perahu kecil. Pada malam hari sebelum muang jong, digelar acara berasik (salah satu tarian Suku Sawang) dan berbagai hiburan lainnya.

Tradisi yang dilaksanakan setiap bulan Oktober menjelang musim barat ini terus berlanjut dan menurut riwayatnya tidak boleh di tinggalkan karena merupakan perjanjian antara Dukun Kampong Tanjong Tinggi dan Kepala Suku Sawang. Suatu kali pada masa penjajahan Jepang, Selamatan Laut tidak dilaksanakan karena pada waktu itu masyarakat dipaksa untuk bertani dan bersawah sehingga jauh meninggalkan perkampungan. Setelah Jepang hengkang dari Belitung, penduduk kembali ke perkampungan dan melaut. 

Namun karena tidak lagi melaksanakan Selamat Laut (Muang Jong), musibah kembali terjadi dengan meninggalnya 25 orang penduduk desa dalam waktu yang berdekatan. Pada waktu itu jabatan dukun  dipegang oleh Kik Jarab, dan karena tidak sanggup mengatasi kejadian tersebut Kik Jarab menyerahkan jabatan dukun kepada Kik Mat Asim, yang kemudian kembali mengadakan Selamat Laut (Muang Jong) sehingga musibah tidak terjadi lagi di kampung tersebut. Selanjutnya Kik Mat Asim menyerahkan jabatan Dukun kepada Sa’ie Deramad, dan berpesan agar acara Selamat Laut ( Muang Jong) tidak di tinggalkan oleh generasi berikutnya.

Minggu siang, 20 Oktober 2013 yang lalu, pada puncak acara Pekan Wisata Sijuk 2013, Muang Jong atau Selamat Laut Desa Tanjung Tinggi kembali digelar di Pantai Bilik, Desa Tanjung Tinggi. Dengan prosesi yang dipimpin Dukun Kampong dan Dukun Laut, dua perahu kecil berisi sesajian serta ancak diantar ke tengah laut dalam suatu arakan yang diiringi delapan perahu nelayan. Segenggam harap membuncah, agar keselamatan menyertai setiap pelayaran dan semoga laut senantiasa membagi kelimpahannya dengan suka cita.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar