Pelajar Muhammadiyah II Pontianak Temukan Alat Pendeteksi Asap Kebakaran Hutan

KALIMANTAN Barat patut berbangga memiliki Saffana Rizqi Qinthara, 11. Saffana merupakan salah satu dari 18 finalis Kalbe Junior Scientist Award yang bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara.

Pelajar kelas VI Sekolah Dasar Muhammadiyah II Pontianak, Kalbar,  ini mengharumkan nama Bumi Khatulistiwa dengan karya ilmiah yang diciptakannya untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Di tengah bencana kabut asap yang menyelimuti sebagian wilayah Kalbar akibat pembakaran hutan dan lahan, Saffana hadir dengan memberikan secercah harapan. Pelajar jenius ini merupakan penemu ilmiah alat pendeteksi kebakaran hutan dan lahan.
                
Alat temuan Saffana itu dinamakan “Alat Pendeteksi Asap Kebakaran Lahan dan Hutan”.  Alat ini ternyata menarik perhatian Presiden Jokowi di tengah peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalbar, maupun sebagian wilayah Kalimantan dan Sumatera.
                
Presiden Jokowi pun sempat berdialog dengan pelajar jenius ini dalam pertemuan itu. Termasuklah dengan Saffana, anak pasangan Ervan Judiarto, ST, MT dan Hilda Judiarto, ST,MT, itu. Bahkan, Saffana dengan lugas menjelaskan cara kerja alat te
muannya tersebut. Alat ini memang baru sekedar temuan dan butuh pengembangan lebih lanjut.

Namun demikian, upaya Saffana ini setidaknya memberikan harapan untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan yang saban tahun terjadi di Kalbar.  

Suratno, Guru Pembimbing Saffana, menjelaskan,  Presiden sangat tertarik dengan alat “Alat Pendeteksi Asap Kebakaran Lahan dan Hutan” yang diciptakan oleh Saffana tersebut.
                
“Kebetulan lagi booming (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera, sehingga itu jadi menarik perhatian. Akhirnya anak-anak (finalis) termasuk Saffana pun diwawancara Presiden soal penemuan kita yakni alat “Alat Pendeteksi Asap Kebakaran Lahan dan Hutan”,” kata Ratno.
                
Kepala negara sangat merespon temuan Saffana ini. Karenanya, Saffana dipanggil ke mimbar untuk menjelaskan temuannya tersebut.

“Beliau sangat respect apalagi momennya sekarang ini sangat tepat,” kata Ratno yang juga Guru Komputer SD Muhammadiyah 2 Pontianak ini.
                
Ratno menjelaskan, alat ini diciptakan karena melihat musibah kebakaran hutan yang saban tahun terjadi. Alat tersebut memang sengaja diciptakan untuk dipasang di hutan. Alat itu berisi berbagai macam piranti. Antara lain yang utama adalah sensor asap.
                
Kemudian ada IC untuk pembangkit signal yang bisa memunculkan suara alarm. Pada saat ada asap melintasi alat tersebut, maka alarm yang ada akan berbunyi.  Semua piranti itu disimpan dalam sebuah casing yang dibuat sedemikian rupa untuk melindungi dari hujan dan panas.  
                
“Jadi memang casingnya berbentuk kotak dan itu tidak masalah,” kata Ratno. “Ini masih sederharna. Namun, nanti masih bisa dikembangkan lagi,” timpalnya.
                
Menurut Ratno, temuan ini akan terus dikembangkan lagi dengan kombinasi-kombinasi alat lainnya. Sehingga nanti dapat digunakan dan bermanfaat untuk mendeteksi kebakaran hutan dan lahan.
                
Misalnya, nantinya dalam pengembangan alarm diganti dengan sirine sehingga  ketika alat disimpan di hutan suaranya bisa kedengaran lebih jauh kalau ada asap. “Itu nanti dalam pengembangan bisa diganti sirine,” katanya. 
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar