Sejarah Diskotek Pertama di Jakarta, yang Juga Pertama di Asia

TANAMUR diskotek pertama di Jakarta. Bahkan kabarnya pertama di Asia. Namanya harum hingga Eropa. Saking tenarnya, dulu ada istilah "nggak ke Jakarta kalau belum ke Tanamur".

Tanggal 4-5 Desember 1975, Deep Purple menggelar konser di Jakarta. Konser dua hari berturut-turut ini dibanjiri tak kurang 150 ribu penonton. Konon, inilah konser rock dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang sejarah Indonesia.  

Setelah konser berakhir, rombongan Deep Purple menggelar after show party di diskotek Tanamur. "Para rockstar itu ke Tanamur bukan karena diajak promotor. Tapi mereka yang meminta dibawa ke sana," kata Hendaru Tri Hanggoro, sejarawan yang pernah meneliti riuh rendah kehidupan Tanamur.

Menurut Hendaru, sebelum datang ke Jakarta, Deep Purple sudah mendengar cerita tentang Tanamur. "Pada masanya Tanamur sangat terkenal. Jadi perbincangan sampai Eropa. Sebab, inilah diskotek pertama di Jakarta, bahkan pertama di Asia."

Entah mana yang benar, Martin Jenkins dalam Tanamur: Long Gone But Not Forgotten menulis, Tanamur adalah "first real disco to open in the whole of South East Asia."

Babat Alas

Tanamur didirikan oleh Ahmad Fahmy Alhady, ayah artis Atiqah Hasiholan pada 12 November 1970. Alasan pria keturunan Arab itu babat alas membuka diskotek sederhana saja "Sudah terlalu banjak night club di Djakarta. Tapi semuanja terlalu formil. Tidak ada suasana bersantai. Perlu didirikan sesuatu jang lain jang dapat memberikan suasana merdeka, sehingga orang dapat beristirahat," katanya, tulis majalah Tempo, 20 Maret 1971.

Jangan samakan dengan sekarang, waktu itu diskotek masih hal baru. Bahkan kata diskotek sendiri belum banyak dikenal orang.

"Seorang pejabat provinsi Jakarta bahkan menanyakan perihal kata itu ketika Fahmy meminta izin pendirian diskotiknya," tulis majalah Historia, No 2, Tahun I, 2012.

Modal 20 Juta

Fahmy anak juragan tekstil Tanah Abang. Bosan kuliah Teknik Industri di Jerman, dia pulang kampung. Berbekal modal Rp 20 juta, lelaki brewokan yang pernah jadi suami Ratna Sarumpaet ini menyulap sebuah rumah tua di Jl. Tanah Abang Timur No 14 menjadi diskotek--konsep tempat hiburan yang dibawanya dari Eropa. 

Bangunan itu bercat hitam. Ada pohon kaktus besar di pekarangannya. Pintu bercorak klasik warna merah. Begitu masuk menuruni anak tangga, terhampar lantai dansa berikut sebuah bar yang terbuat dari kayu. Bangku-bangku berbantal kulit kambing. 

"Suasana di dalam ruangan adalah tjampuran kedai kopi di djaman tiga musketir dan cafe daerah Wild West. Di podjok berdiri sebuah kerangkeng besi untuk a gogo girl. "Inilah Tanamur, sederhana dan bebas", kata Ahmad Fahmy," tulis majalah Tempo, 20 Maret 1971.  

Tanamur merupakan akronim dari Tanah Abang Timur. Pengunjung Tanamur kebanyakan bule. Di sana, tak ada band. Yang ada hanja seorang disc jockey (DJ) dengan ratusan piringan hitam di sampingnya. 

"Yang cukup terkenal di Tanamur DJ Vincent. Dia orang Maluku. Suatu waktu DJ Vincent ke London. Ternyata ada orang yang mengenalinya. Orang itu mengaku sering ke Tanamur kalau ke Jakarta. Malam harinya dia mengajak Vincent ke diskotek, dan diberi kehormatan nge-DJ di sana," papar Hendaru.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar