Akui Pentingnya Peran Akademisi, Kemlu RI Adakan Forum Diskusi Diplomasi Maritim di UMY

“Indonesia adalah negara maritim. 63%  wilayah Indonesia adalah laut, sementara garis pantai Indonesia mencapai lebih dari 81.000 km. Tantangan yang dihadapi Indonesia adalah memaksimalkan potensi maritim yang kita miliki ini.” kata Sekjen Kemlu, Kristiarto Legowo, di Forum Diskusi Peluang dan Tantangan Indonesia Menuju Negara Maritim di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Sebelum pelaksanaan diskusi, Sekjen Kristiarto juga menghadiri penandatanganan MoU antara Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kemlu RI dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang diwakili oleh Acting Kepala BPPK Dubes Salman Al-Farisi dan Rektor UMY Bambang Cipto mengenai kesepakatan untuk kerjasama di bidang penelitian, pendidikan dan pengabdian pada masyarakat.

Pilar – Pilar Kemaritiman Indonesia

Mengutip pidato Presiden Jokowi di East Asia Summit, Nay Pyi Taw Myanmar tahun 2014 lalu, Sekjen Kristiarto menjabarkan pilar – pilar kemaritiman Indonesia.

“Pilar yang pertama adalah membangun industri kelautan Indonesia, dengan nelayan sebagai garda terdepan. Indonesia mempunyai kekayaan kelautan yang luar biasa dan kekayaan itu harus dilindungi. Itu adalah pilar kedua.  Tidak lupa, penguatan infrastruktur seperti pembangunan tol laut dan pelabuhan laut dalam sebagai pilar ketiga. Pilar keempat, penguatan diplomasi maritim dengan menyerukan pengurangan friksi, seperti pelanggaran wilayah dan kontroversi di laut. Pilar  terakhir, namun tidak kalah pentingnya adalah menguatkan pertahanan maritim.”

“Masukan akademisi sangat penting untuk memperkaya referensi. Kemlu mempunyai harapan besar untuk forum diskusi ini, untuk menggalang ide – ide dan pemikiran baru, apalagi di UMY yang sudah mendapatkan pengakuan internasional sebagai center of excellence,” tambah Sekjen Kristiarto.

Diskusi yang kemudian berlangsung dipandu oleh Hery Saripudin, acting Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kebijakan Kemlu RI dan menghadirkan empat pembicara yang mumpuni, termasuk Makarim Wibisono, ketua Dewan Indonesian Council of the World dan Pakar Transportasi Laut dari Universitas Indonesia, Harjono Kartohadiprodjo.

Paparan Panelis: Pergeseran Jalur Pelayaran Internasional & Potensi Maritim Indonesia

Haryono Kartohadiprodjo mengetengahkan tentang pergeseran jalur pelayaran dunia ke wilayah Indonesia. “Selat Malaka adalah jalur pelayaran tersibuk ke-2 di dunia. Setiap harinya, Selat Malaka dilewati 15 juta barel minyak dan 19 juta ton kargo.  Jumlah ini meningkat 5 persen setiap tahunnya. Selat Malaka sudah tidak sanggup menangani peningkatan ini, sehingga kini jalur pelayaran beralih ke wilayah Indonesia, ke Selat Sunda, Lombok, Timor, Makasar. Saat ini selat – selat tersebut belum siap sepenuhnya, namun bayangkan potensi yang bisa Indonesia raup jika peralihan ini bisa dimaksimalkan.”

Made Andi Arsana berfokus pada keberhasilan Indonesia di masa lalu, memperjuangkan Deklarasi Juanda dari tahun 1958-1982 dan mendapatkan jutaan kilometer wilayah laut yang strategis tanpa menembakkan satu butir peluru pun.

Dosen Geodesi UGM ini juga menceritakan keunikan batas – batas wilayah laut, dimana dua negara bisa menguasai satu wilayah secara bersamaan, legal. Hal ini terjadi di satu wilayah laut perbatasan Indonesia-Australia, dimana Indonesia berhak atas air laut dan kekayaan di dalamnya, sementara Australia mempunyai hak legal atas dasar laut dan kekayaan yang terkandung, seperti minyak dan terumbu karang.

Dubes Makarim Wibisono memperlihatkan bahwa Indonesia sudah mempunyai political will yang sangat kuat untuk mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. “Tapi, political will ini juga harus disertai dengan penguatan naval force agar kita tidak kalah dengan negara – negara tetangga kita. Diplomasi Maritim tanpa naval force yang memadai tidak akan bisa berlangsung dengan baik.”

Guru Besar UMY Tulus Warsito menyoroti aspek lain dari diplomasi maritim Indonesia, yakni Laut Tiongkok Selatan. Indonesia sudah berusaha mengurai perselisihan yang terjadi di Laut Tiongkok Selatan selama lebih dari 20 tahun. “Upaya ini merupakan hal yang bagus. Dengan adanya upaya Indonesia dan absennya konfontrasi terbuka yang menciptakan status quo, maka kondisi di LTS bisa dijaga agar tetap stabil,”imbuhnya.

Forum diskusi yang dihadiri oleh mahasiswa, kalangan akademisi dan media ini ditutup dengan sesi tanya-jawab dan penyerahan cinderamata kepada para panelis.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar