Indonesia Negara Pertama yang Punya Tentara Pelajar? Yuk Tengok Kisahnya...

19 OKTOBER 1945. Murid-murid Sekolah Menengah Tinggi Darmo 49 Surabaya resmi menjadi tentara pelajar. Hari itu pena berganti sangkur, buku berganti bedil. Inilah kisah peletakan batu pertama sejarah Tentara Republik Indonesia Pelajar, biasa disingkat TRIP.

Di muka bumi ini, Indonesia disebut-sebut sebagai negara pertama yang memiliki tentara pelajar. Entah iya, entah tidak, coba aja cek...

Saat perang dunia kedua (1939-1945), Jerman juga punya pasukan anak-anak. Tapi tidak membawa embel-embel pelajar. Mereka hanya serdadu yang diperbantukan. Bukan pasukan resmi. 

Seragam Baru

Puluhan pelajar mendatangi markas Barisan Keamanan Rakyat (BKR) Surabaya yang dipimpin Sungkono. 

"Kami menerima pemuda-pemuda pelajar SMP dan SMT di Surabaya dengan raut-raut muka yang tegap menggelora, menyatakan diri sebagai BKR Pelajar Surabaya," kenang Sungkono, termuat dalam Pelajar dan Perang Kemerdekaan.

Menurut cerita Sungkono, para pelajar itu menyatakan tekad ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan proklamasi 17 Agustus 1945. Maka, selain nasehat, para pelajar itu dibekali perlengkapan seperlunya.

Sungkono juga berjanji akan datang ke sekolah esok hari untuk mengecek dan melantik para pelajar itu menjadi tentara resmi.  

Sepulang ke sekolah-asramanya, tak keruan senangnya para pelajar itu. Mereka usap-usap bedil dan kenakan seragam tentara yang baru didapat. 

A. Radjab dalam buku Pelajar dan Perang Kemerdekaan yang ditulisnya menceritakan, "pakaian kami itu semuanya tidak ada yang menurut ukuran seorang-seorang."

Topinya serupa kopiah Padang dari kain tipis warna hijau coklat muda. Ukurannya; sebagian ada yang bertengger saja di kepala, dan sebagian lagi kebesaran hingga masuk menutupi telinga. 

Pun demikian, kenang Radjab, "di hati ada bangga sedikit atau berlebihan: Ini topi berjuang, atau topi perjuangan!"

Kemeja dan celananya potongan seragam Jepang, sebab memang berasal dari gudang-gudang logistik tentara Jepang. Kaos kakinya berbahan katun. Lurus polos tanpa lekukan tumit. "Ini sudah terlalu mewah pada saat itu," ungkap Radjab.

Sepatu booth rata-rata bernomor 113. Untuk ini Radjab berkomentar, "mereka tak dapat dikatakan bersepatu, melainkan berenang dalam sepatu."

Meski ukurannya banyak yang kebesaran, mereka tetap senang dan berebut ke muka cermin. Mengagumi diri masing-masing. 

Menjadi Tentara 

Nah, hari baru datang. Pagi itu, setelah sarapan, mereka mulai berkemas. Menjelang kedatangan Sungkono cs, "kami selalu bergurau, saling mengejek, cuai-mencuai...maklum, baru kemarin kami menerima pakaian-perlengkapan perang," kenang Radjab. 

Lalu terdengarlah bunyi lonceng pertanda segera berkumpul. Para pelajar berbaris rapi. Setelah pidato sambutan-sambutan dari sejumlah orang, tibalah giliran Sungkono, pimpinan BKR Surabaya.

"...asrama saudara-saudara ini adalah asrama keenam dari BKR Kota ini dan yang terbaik...Selamat berjuang, selamat menyusun barisan yang kuat," pidato Sungkono itu menandai peresmian tentara yang berbasiskan pelajar.

Radjab menegaskan...Pada hari 19 Oktober 1945 itu kami bertolak, kami tukar pena serta kitab dengan sangkur dan bedil untuk menyelesaikan dharma kami...mulai hari ini papan nama sekolah kami telah berobah...

Pelajar-pelajar ini ambil bagian dalam pertempuran Surabaya yang legendaris itu. Saat Surabaya dikuasai tentara Sekutu, mereka hijrah.

Markas Baru

Sejak tanggal 26 November 1945, gedung Sekolah Menengah Tinggi Darmo 49 Surabaya yang di depan gerbangnya tergantung papan besar bertuliskan MARKAS TRIP DARMO 49 SURABAYA, ditinggalkan penghuninya. 

Surabaya dikuasai tentara Sekutu. Untuk sementara waktu, biarlah Surabaya menjadi kota kenangan. Anak-anak TRIP mendirikan markas baru di lereng gunung Kendeng, Parengan, Jetis--lebih kurang 15 km sebelah timur Mojokerto.

Dibantu rakyat setempat, pelajar-pelajar belasan tahun itu putar otak dan menguras tenaga mendirikan markas. 

Dinding dan tiang dari bambu. Atapnya dari ilalang kering. Tempat tidur dari bambu, yang paling kecil untuk dua orang. Lainnya cukup untuk enam orang. Meja dan kursi, semuanya dibuat sendiri berbahan bambu.

Inilah markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Darmo 49 Surabaya yang telah berganti nama menjadi Brigade 17 Detasemen I Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) Jawa Timur.

"Di tempat ini kami bekerja, bergurau, belajar, bertukar pikiran, berdebat, berangan-angan. Di tempat ini kami hidup. Di tempat ini kami tanamkan dengan pupuk yang baik, dasar perjuangan kami; Dari Rakyat, Dengan Rakyat dan Untuk Rakyat...," tulis A Radjab, pada September 1950 dalam pengan buku Pelajar dan Perang Kemerdekaan.

Pemimpin pasukan pelajar itu akrab disapa Mas Isman, ayah dari Hayono Isman.

"Sesungghunya di antara kami tiada beda dalam pangkat atau tingkat. Semua sama. Siapa yang cakap dan dapat diterima, dialah yang kami angkat jadi pemimpin," sambung Radjab dalam tulisannya. 

Sumber : jpnn.com
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar