Kemlu Selenggarakan Workshop di bidang Political Finance dan Pemberantasan Korupsi

Direktorat Kerja Sama Teknik, Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Non-Aligned Movement Center for South-South Technical Cooperation (NAM-CSSTC) dan International Institute for Democracy and Electoral Assistance (IDEA) tengah menyelenggarakan the Asian-African Practitioners Meeting on the Political Finance Regulation and Corruption Eradication di Bandung (20-22/10).

Bertempat di Hotel Grand Preanger, the Asian-African Practitioners Meeting on the Political Finance Regulation and Corruption Eradication dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Kementerian Luar Negeri pada tanggal 20 Oktober 2015 dengan dihadiri oleh Direktur Regional IDEA untuk Asia dan Pasifik, Duta Besar Nigeria dan Perwakilan Pejabat dari Kedutaan Tunisia.

Dalam sambutannya, Leena Rikkila Tamang, Direktur Regional IDEA untuk Asia dan Pasifik menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk berbagi pengalaman dalam mencari solusi untuk memberantas korupsi keuangan di dunia kampanye perpolitikan. Dalam kesempatan tersebut, Leena Rikkila Tamang juga menyampaikan bahwa negara seperti Finlandia, negara yang menjadi parameter transparansi juga menghadapi kendala yang sama. Fenomena ini melanda negara-negara di Asia dan Afrika tidak luput juga Indonesia dan India sebagai negara demokrasi besar di dunia. Dalam kesempatan workshop kali ini diharapkan peserta yang juga pembicara dapat mendengar pengalaman dari masing-masing negara dan mampu mengasilkan ide-ide baru yang applicable di kedua wilayah.

Dalam sambutan pembukaan, Dirjen IDP Duta Besar Esti Andayani menyampaikan bahwa Bandung adalah kota bersejarah dimana pada tahun 1955, pemimpin dari negara Asia dan Afrika berkumpul untuk mengakhiri kolonialisme dan memperjuangkan kerja sama untuk meningkatkan ekonomi kedua wilayah. Pada bulan April 2015, Bandung telah menjadi tuan rumah dalam memperingati 60 tahun Konferensi Asia-Afrika, yang dihadiri oleh 109 negara. KAA 2015 telah menghasilkan Bandung Message yang salah satunya menyebutkan mengenai penguatan Kerja sama Selatan-selatan melalui kerjasama triangular merupakan salah satu cara membangun negara selatan melalui kerjasama yang saling menguntungkan.

Duta Besar Esti Andayani melanjutkan bahwa sejak tahun 1980, dibawah kerangka kerjasama selatan-selatan dan triangular Indonesia telah melaksanakan workshop dan pelatihan kepada lebih dari 4.550 peserta dari 92 negara. Workshop kali ini adalah contoh lain inisiatif Indonesia dalam kerangka kerjasama tersebut untuk berbagi pengalaman dalam mewujudkan good governance dan pemberantasan korupsi. Sejak tahun 2012, Indonesia telah melaksanakan 4 workshop dibidang demokrasi dan pemberantasan korupsi dan pada akhir tahun ini Indonesia akan mengirimkan dua ahli di bidang pemberantasan korupsi ke Tunisia.

“Aktifitas Politik demokrasi membutuhkan uang dan untuk memenangkan pemilu kandidat membutuhkan sokongan dana yang besar dan ketika kandidat tersebut menang cenderung melakukan tindakan korupsi untuk membalas dukungan dana donatur. Untuk itu, peraturan keuangan politik dan penegakan hukum sangat penting, Indonesia sebagai negara yang telah meratifikasi United Nation Convention against Corruption telah berkomitmen untuk memberantas korupsi. Pemerintah Indoensia juga bekerjasama dengan berbagai pihak seperti institusi publik, NGO dan media untuk memberantas korupsi” Sambungya.

The Asian-African Practitioners Meeting on the Political Finance Regulation and Corruption Eradication ini dihadiri oleh 20 peserta dari Afrika Selatan, Nigeria, Tunisia, Sudan, Nepal, Filipina, Ghana, Kamboja, Mesir, India, Liberia, Ethiopia, Mongolia, Finlandia dan Indonesia. Peserta sekaligus pembicara dalam workshop merupakan pembuat kebijakan, praktisi, dan akademisi. Materi workshop disusun dalam bentuk sharing pengalaman beberapa negara dalam menghadapi korupsi di dunia keuangan politik dan study case di beberapa negara Asia dan Afrika. Peserta dan pembicara dari Indonesia pada hari pertama yaitu Ketua KPU, Husni Kamil Manik.

Disela-sela Workshop peserta juga akan mengadakan kunjungan ke Museum Konferensi Asia-Afrika dan menyaksikan pertunjukan alat musik angklung di Saung Mang Udjo untuk lebih memperkenalkan budaya setempat. Melalui workshop ini, diharapkan peserta memperoleh pengalaman negara lain dalam mengatasi permasalahan korupsi kampanye politik dan mendapatkan model ideal untuk masing-masing negara dalam mewujudkan negara yang memiliki pemerintahan yang baik, demokrasi dan transparan. 
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar