Avicenna & Farisi: Siswa SD Pembuat Terminator yang Raih Perak di World Creativity Festival 2015, Korea

Muhammad Zulfikar Avicenna dan Muhammmad Baiata Farisi, murid kelas VB SD Semesta Bilingual Boarding School, Semarang, Jawa Tengah, yang membuat cairan pembasmi rayap Terminator (Termite exterminator) berhasil meraih medali perak dalam lomba World Creativity Festival 2015 yang berlangsung pada 17-18 Oktober di Daejeon, Korea Selatan.

Pada awalnya Cenna, sapaan akrab Avicenna, mengaku risih karena rak buku di perpustakaan sekolahnya dikerumuti rayap. Siswa yang menginjak usia 10 tahun ini pun, langsung mengajak teman sekelasnya, Farisi, untuk mencari solusi agar rayap tersebut tidak lagi mampir di rak buku perpustakaan sekolah.

Bermodal internet untuk mencari-cari bahan formula yang ampuh, Cenna dan Farisi beserta guru pembimbingnya, Umarudin, akhirnya menemukan buah bintaro sebagai bahan utama formula anti rayap.

Dua bocah itu mulai melakukan eksperimen dengan mengubah buah bintaro yang beracun menjadi cairan anti rayap. Semua ide dua anak itu masih berdasar data pada materi pelajaran tentang tumbuhan di kelas III dan browsing di internet.

Buah bintaro dipilih karena banyak terdapat di Tembalang dan Banyumanik, tidak jauh dari sekolahnya. Buah itu juga sudah terpercaya reputasinya sebagai pembasmi tikus.

“Kami lakukan percobaan dua kali. Yang pertama gagal. Terus yang kedua berhasil,” kata Farisi.

Hal itu dilakukan oleh Cenna dan Farisi sebulan sebelum ada lomba World Creativity Festival 2015 di Daejeon, Korea Selatan. Karena dinilai menarik, akhirnya penemuan itu ikut dilombakan di ajang bertaraf internasional itu.

“Akhir Oktober lalu ikut lomba dan dapat medali perak,” kata Cenna.

Saat presentasi, buah bintaro yang sudah diubah menjadi cairan itu disemprotkan ke tempat rayap berkumpul. Hanya hitungan detik, rayap langsung mati.

Farisi pun menceritakan pengalamannya ketika berada di Daejeno, Korea Selatan. Dia dan Cenna saat itu percaya diri dengan temuan mereka. Saat persentasi dengan bahasa Inggris pun mereka yakin menang.

“Sempet deg-degan soalnya slide hilang satu, tapi enggak apa-apa. Tetep go terus. Pas datang sudah yakin menang,” kata Farisi.

Guru pembimbing, Umarudin mengatakan pihaknya membantu membimbing dan mengarahkan siswanya termasuk mencarikan jurnal tentang buah Bintaro itu. Terkait pengajuan hak paten, sudah ada rencana namun harus melalui penelitian lebih lanjut.

“Jadi mereka melihat situasi di sekolahannya. Kemudian di jurnal itu disebutkan buah Bintaro memiliki senyawa yang bisa dimanfaatkan (untuk membasmi rayap). Untuk mematenkan perlu kajian ilmiah lebih lanjut,” kata Umarudin.

Kepala SD Semesta Bilingual Boarding School, Siti Zubaidah mengatakan bahwa sudah dua kali siswa-siswanya mendapatkan medali di ajang yang sama. Tahun lalu temuan berupa kulit durian yang bisa menjernihkan jlantah atau minyak bekas pakai bisa mendapatkan medali perak.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar