Pianis Muda Indonesia Masuk Nominasi Grammy Awards 2016 untuk 2 Kategori

Mengagumkan, itulah kata yang tepat buat Joey Alexander. Betapa tidak, pianis muda Indonesia berusia 12 tahun tersebut,  masuk nominasi penghargaan musik paling bergengsi di dunia, Grammy Awards 2016. Bukan hanya satu nominasi, Joey dinobatkan dalam dua kategori, yaitu Best Jazz Instrumental Album dan Best Improvised Jazz Solo.

Joey masuk dalam daftar nominasi Grammy Awards ke-58 itu ditampilkan di laman resmi Grammy (https://www.grammy.com/nominees) pada Senin (07/12/15). Upacara penganugerahannya baru akan dilangsungkan di Los Angeles pada15 Februari 2016.

Album perdana Joey di bawah label Motema Music yang berjudul “My Favorite Things” masuk ke dalam kategori Best Jazz Instrumental Album, sedangkan lagunya dari album tersebut yang berjudul Giant Steps masuk ke dalam kategori Best Improvised Jazz Solo.

Joey Alexander adalah seorang prodigy dengan talenta musik bawaan yang luar biasa. Dia dilahirkan di Bali, 25 Juni 2003, dan sejak tahun lalu menetap di New York, AS, untuk mengembangkan bakat dan kariernya di dunia musik. Di usianya yang masih belia, Joey pernah tampil di berbagai pentas musik bergengsi di Amerika dan Eropa dan menarik perhatian banyak media di dunia Barat.

Di usianya yang baru 11 tahun, prodigy musik itu diundang untuk tampil pada sebuah gala yang dipersembahkan untuk menghormati mantan Presiden AS Bill Clinton di New York, Amerika Serikat. Pada kesempatan itu, Joey menyuguhi para tamu dengan irama alunan piano yang mengalun dari sentuhan jemari kecilnya yang terampil. Di antara para tamu itu adalah mantan calon presiden AS John McCain dan Wakil Menteri Luar Negeri AS William J. Burns.

“Saya bersyukur sekali bisa tampil di Amerika dan bertemu dengan tokoh-tokoh penting. Ini semua adalah berkat pemberian dari Tuhan,” kata Joey di kantor KBRI Washington DC, Amerika Serikat (10/09/14).

Pengalaman Joey dalam menapaki dunia musik dimulai dari usia dini. Saat Joey berumur enam tahun, ayahnya yang juga hobi musik membelikan sebuah keyboard kecil. Sang ayah memainkan alat musik itu di depan Joey untuk mengetahui minat anaknya terhadap musik. Rupanya Joey kecil amat tertarik.

Bukan itu saja, Joey juga menunjukkan bakat yang luar biasa. Dia dengan cepat dapat menyerap apa yang diajarkan oleh ayahnya. Dia bahkan bisa membawakan melodi ‘Well, You Needn’t’ karya musisi jazz ternama asal Amerika, Thelonious Monk.

Sejak itu Joey tak pernah lepas dari piano. Memilih homeschooling, setiap hari Joey berlatih memainkan alat musik temuan Bartolomeo Cristofori itu selama minimal tiga jam. Ayahnya sendiri lah yang menjadi guru buat Joey. Beberapa kali dia sempat mendatangkan guru les, tapi tidak pernah bertahan lama.

“Joey lebih suka belajar sendiri. Pernah beberapa kali mengundang guru les, tapi tidak pernah lama. Paling lama delapan bulan,” kata ibunda Joey, Fara Urbach.

Hal yang menonjol dari Joey adalah kemampuannya untuk mempelajari nada dengan mengandalkan telinga dan perasaannya. Dia mampu mengenali nada dengan tepat dan mengingatnya dengan cepat.

Dia memiliki perfect pitch. Kemampuan semacam itu tidak dimiliki oleh sembarang musisi. Kecocokan antara bakat dan karakter musik jazz itulah yang membuat Joey jatuh cinta pada musik jazz.

“Yang aku suka dari jazz adalah aku bisa berimprovisasi. Musik jazz itu spontan. Musiknya freedom, tapi juga deep. Memainkan jazz harus dengan feeling. Aku bisa mengekspresikan perasaan lewat musik jazz,” tutur Joey.

Berkat bakat pembawaan dan disiplin latihan yang dia jalankan, keterampilan Joey meningkat dengan pesat. Dalam waktu kurang dari empat tahun, Joey sudah mampu memainkan lagu-lagu dengan tingkat kerumitan tinggi dan menghafalnya di luar kepala.

Selain dari ayahnya, Joey mempelajari lagu-lagu itu secara otodidak dari Youtube. Idolanya adalah para musisi jazz papan atas dunia seperti Bill Evans, Herbie Hancock, dan Wynton Marsalis. Secara tidak langsung mereka lah guru Joey.

Suatu hari di bulan Desember 2013, iCanStudioLive di Jakarta merekam penampilan Joey dan mengunggahnya di Youtube. Video berdurasi 14 menit itu rupanya menarik minat kalangan pecinta musik jazz dari berbagai negara. Tautan video berjudul ‘Sons of the Future’ yang hingga kini telah dibuka sebanyak 362,685 kali tersebut menuai banyak pujian.

Mereka takjub dengan kepiawaian Joey memainkan piano. Di antara orang yang tertarik itu adalah Ellen DeGeneres, host pada salah satu acara TV paling populer di Amerika, The Ellen DeGeneres Show.

“Tidak lama setelah rekaman di Youtube keluar, kami dihubungi oleh tim dari The Ellen DeGeneres Show. Mereka ingin mengundang Joey untuk tampil di acara tersebut. Tapi karena kami tinggal di Indonesia, akhirnya mereka mewawancarai Joey dari jarak jauh,” tutur Fara.

Tak hanya sampai di situ, Joey juga mendapat undangan untuk tampil di Jazz at Lincoln Center, New York, bulan Mei 2014. Yang mengundang adalah Wynton Marsalis, komposer ternama dari Amerika yang juga Direktur Artistik Jazz at Lincoln Center. Joey membawakan lagu Round Midnight karya Thelonious Monk, musisi yang menjadi “guru” pertama bagi Joey.

Berita mengenai Joey pun mulai menghiasai media-media internasional ternama, seperti CBS dan The Wall Street Journals . Mereka menyebut Joey dengan sebutan prodigy—orang dengan bakat luar biasa.

“Meski di acara itu tampil banyak legenda jazz dan komedian, tapi pada saat gala dinner kebanyakan peserta tidak henti-hentinya membicarakan tentang versi piano dari lagu Round Midnight karya Thelonious Monk yang dibawakan oleh Joey Alexander, prodigy umur 10 tahun dari Jakarta, Indonesia,” demikian tulis The Wall Street Journals.

Dengan talenta yang dimilikinya, Joey telah melangkah jauh di usia yang amat muda. Selain di Amerika, Joey juga pernah tampil di Eropa, seperti di Copenhagen Jazz Festival 2014, Denmark. Sebelum namanya mencuat di Amerika, Joey bahkan telah mendapatkan penghargaan Grand-Pix Award setelah memenangkan kontes jazz di Ukraina pada bulan November 2013.

Bagi Joey, musik adalah dunia dan masa depannya. Ke depan, dia ingin fokus dan terus mengembangkan kemampuan musiknya. “Cita-citaku adalah terus bermain musik. Aku suka musik, dan aku ingin terus tampil. Aku juga ingin rekaman,” kata Joey.

Sayangnya, bakat cemerlang Joey kurang mendapat tempat di Indonesia. Meski sudah mulai tumbuh, namun industri musik jazz di tanah air belum cukup menjanjikan. Karena itu, Joey dan keluarganya berencana tinggal di Amerika untuk mengembangkan bakat dan kariernya.

Sambil berkarier di industri musik internasional, Joey tetap menyemaikan harapan pada perkembangan musik tanah air. “Saya berharap masyarakat Indonesia semakin menyukai jazz,” ucapnya.
Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar