RI dan Korsel Resmi Lanjutkan Proyek Jet Tempur KFX/IFX Tahap Dua

Sempat mandeg, proyek kerja sama pembuatan pesawat tempur KFX/IFX kembali berlanjut. Ini merupakan kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan.

Berlanjutnya kerja sama ini ditandai dengan penandatangan kontrak cost share agreement (CSA). Ini sebagai tanda dimulainya pelaksanaan tahap kedua atau EMD (engineering and manufacturing development) phase pengembangan jet tempur yang rencana awal akan dibuat 5 unit prototipe.

Kerjasama antara RI dengan Korsel ini tidak hanya dengan skema G to G (government to government) namun juga diperkuat dengan skema B to B (business to business) antara PT Dirgantara Indonesia (PT DI) dan Korea Aerospace Industries (KIA). Di mana dalam kerjasama ini disepakati diadakannya transfer of technology (ToT).

"Jadi memang harus buat karena kita ini negara besar, nomor 3 di dunia, kemudian luas dengan darat laut begitu, harus punya kemampuan laut udara yang handal, dan harus. Kalau nggak dimulai dari sekarang kapan lagi kita dapat membuat. Kalau membeli semua orang bisa, kalau membuat kan tidak semua orang bisa," ujar Menhan Ryamizard Ryacudu.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara penandatangan kontrak kerja sama di kantor Kemenhan, Jl Medan Merdeka Barat, Jakpus, Kamis (7/1/2015). Penandatanganan kontrak CSA dilakukan antara Dirjen Potensi Pertahanan Timbul Siahaan dan President and CEO KAI Ltd, Ha Sung Yong.

Dalam waktu bersamaan juga ditandatangani kontrak Work Assignment Agreement (WAA) antara Dirut PT DI, Budi Santoso dan Ha Sung Yong. Penandatanganan kontrak juga disaksikan oleh Ryamizard dan Minister of Defence Acquisition Program Administration (DAPA) Republik Korea Chang Myoungjin.

Untuk dana sharing dalam pengerjaan proyek jet tempur ini, Indonesia mengeluarkan dana sebesar Rp 18 Triliun di mana dana ini baru untuk pembuatan prototipe saja. Dana dari Indonesia tersebut adalah 20 persen dari total semua biaya dalam proyek ini. 

Indonesia sendiri sudah menyiapkan infrastruktur dalam pengerjaan jet tempur generasi 4,5 itu. Termasuk sudah dibuatnya hanggar di PT DI. Untuk pembuatan prototipe sendiri, direncanakan akan selesai pada tahun 2020.

Lantas berapa banyak pesawat yang akan dibuat untuk pemenuhan kebutuhan TNI AU ini?

"Dua skuadron, (rencana selesai) tahun 2025. Satu-dua pesawat dibuat di sana, pembuatan pesawat ketiga dilakukan di sini, 80 persen yang mengerjakan orang kita," tutur Ryamizard.

Pihak Korea menyambut baik berlanjutnya kerja sama ini. Seperti yang disampaikan Menteri Pertahanan Korea Chang Myoungjin dalam kesempatan yang sama.

"Penandatanganan ini adalah titik dimulainya kerja sama ilmuwan Indonesia dan Korsel. Sebagai penanggung jawab penuh, saya optimis proyek ini akan sukses," ucap Chang Myoungjin.

"Proyek KFX/IFX ini memakan biaya terbesar dari apa yang pernah Korsel lakukan selama ini. Oleh karena itu kami tidak menghemat kapasitas kami, baik secara lembaga maupun akademisi untuk menyukseskan proyek ini," lanjut Myoungjin yang tidak menyebut besaran dana yang akan dikeluarkan Korsel.

Kontrak CSA ini mengatur kesepakatan dan ketentuan mengenai dana sharing atau pendanaan sebagai kewajiban yang akan diserahkan oleh RI (Kemhan) kepada KAI. Ini berdasarkan project agreement on engineering and manufacturing development of joint development KFX/IFX yang telah dilakukan sebelumnya.

Sementara itu kontrak WAA mencakup partisipasi industri pertahanan Indonesia dalam kegiatan rancang bangun, pembuatan komponen, prototipe, pengujian, dan sertifikasi serta mengatur hal-hal terkait aspek bisnis maupun legal. WAA juga mengatur peran yang akan diambil oleh PT. DI meliputi semua hak dan kewajibannya karena WAA merupakan dokumen businness to businnes (B to B).

Seri KFX/IFX sendiri setara dengan jet tempur tipe F-18 Super Hornet, Eurofighter Typhoon, hingga Dessault Rafale. IFX akan diproduksi secara massal di Indonesia dengan disesuaikan dengan kebutuhan TNI.

Spesifikasi jet tempur tersebut antara lain memiliki panjang 51,3 feet, panjang sayap 35,2 feet, tinggi 14.9 feet. KFX/IFX memiliki berat maksimum untuk take off (MTOW) 53.200 lb, dengan kecepatan maksimum hingga 1,9 Mach.

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar