SEA Games 2017, Satlak Prima Prima Targetkan Indonesia Finis Empat Besar

Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) menargetkan memperbaiki peringkat di SEA Games 2017 Kuala Lumpur. Hal ini tak lepas dari banyaknya cabang-cabang yang merupakan unggulan Indonesia yang tidak dipertandingkan.

Diprediksikan ada sekitar 30-an medali emas yang bakal hilang dari tangan Indonesia pada SEA Games 2017 mendatang. Hal ini karena Malaysia, sebagai tuan rumah, tidak mempertandingkan cabang-cabang yang menjadi unggulan Indonesia. Seperti antara lain rowing, kano, dan angkat besi putri. 

"Jadi pada saat SEA Games council yang dilakukan beberapa waktu lalu diputuskan bahwa banyak cabang yang tidak dipertandingkan di Malaysia seperti antara lain kano, rowing, angkat besi putri, sehingga ada perhitungan ulang untuk medali emas yang akan diperoleh," kata Soetjipto di kantornya, PP Itkon, Senayan, Kamis (3/11/2016). 

Menurut Tjip, demikian Achmad Soetjipto disapa, SEA Games sekarang tidak menggambarkan dan tidak mewakili tingkat keunggulan prestasi negara-negara kawasan. Karena ada upaya pemenangan dari tuan rumah sehingga mengorbankan nomor-nomor Olimpiade dan Asian Games, yang seharusnya wajib dipertandingkan. 

Untuk itu, kata dia, Indonesia perlu mengambil langkah-langkah persiapan yang realistis. Dalam arti, tidak perlu mengirim kontingen yang besar tetapi kontingen kecil yang terdiri dari cabang-cabang yang berpeluang untuk mempersembahkan medali. 

Dari 38 cabang olahraga yang dipertandingkan di Malaysia, Satlak Prima memperkirakan hanya mengirim sekitar 360-an atlet dari cabang perorangan dan beregu. Dari jumlah itu pula diprediski hanya ada 17 cabang olahraga yang berpeluang mempersembahkan 65 medali emas. 

"Dengan jumlah itu tentu target di SEA Games nanti hanya memperbaiki peringkat saja. Jika SEA Games 2015 kita peringkat lima, ya di Kuala Lumpur nanti kita hanya bisa peringkat tiga atau empat," ujarnya. 

Ditambahkan Tjip, untuk mencapai itu pun perlu adanya dukungan dalam perencanaan. Seperti perencanaan perfoma, dukungan sport science, strenght conditioning untuk latihan fisik, kapasitas pelatih, kesamaan visi, dan kecukupan anggaran. 

Begitu untuk training camp dan try out-nya, disebutkan Tjip, bahwa pihaknya tidak akan membatasi cabor. Hanya saja, perlu ada kecermatan dalam pemilihan dan penetapan try out baik jumlah maupun kualitas pertandingan.

"Jadi tidak bisa sembarangan. Pelatnas di luar negeri juga perlu kecermatan. Sehingga training camp harus berbentuk modul. anggarannya berapa, berapa lama, dll. Nah tahun 2016 sedang berjalan, sementara untuk 2017 training camp dan try out akan berlangsung Februari -Juni 2017."

"Training camp ini penting mengingat banyak centra latihan yang tidak memiliki lingungan pendukung. Seperti loncat indah misalnya, stadionnya tengah direnovasi sehingga butuh tempat training camp yang mendukung," terangnya.

Di lain sisi, Mantan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) ini juga mengatakan akan melakukan evaluasi berkala kepada setiap cabang. Artinya, lanjut dia, apabila sampai menjelang pelaksanaan hasilnya negatif akan dipertimbangkan untuk tidak diberangkatkan. 

"Jadi itu bukan angka final. Karena kami akan terus melakukan evaluasi secara berkala dan tentu ada tahapannya," pungkasnya. 


Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar