Ini Saran Buat INASGOC untuk Gairahkan Asian Games 2018

Berkaca Jepang sebagai tuan rumah Olimpiade 2020, sudah saatnya INASGOC menggeber promosi Asian Games 2018 secara global dengan 'memanfaatkan' para atlet. 

INASGOC (Indonesia Asian Games 2018 Organizing Committee) alias panitia lokal Asian Games 2018 kesulitan untuk menghidupkan gairah Asian Games kepada publik. Sosialisasi pada enam kota dengan telah menghabiskan dana Rp 60 miliar belum terasa gaungnya. 

Malah dalam prosesnya, dua pengurus KOI Doddy Iswandi dan Anjas Rivai menjadi tersangka penyelewengan dana sosialiasasi Asian Games 2018. 

Padahal, menurut pengamat olahraga Tommy Apriantono, sosialisasi dan promosi Asian Gmaes 2018 bukanlah persoalan sulit. Apalagi pemerintah telah merenovasi venue-venue pertandingan dan wisma atlet. Tinggal KOI dan Prima yang harus menyelaraskan dengan menggenjot persiapan atlet. Bahkan dengan teknologi yang ada, promosi bisa dilakukan secara gratis lewat media sosial. 

"Dana, infrastruktur, dan promosi menjadi hal utama dalam persiapan Asian Games 2018. Sekarang apa yang mau dipromosikan, jika infrastruktur saja masih dibangun, lalu atlet masih kekurangan uang. Ya pasti jelek lah promosinya seperti itu," kata Tommy. 

"Pun jika mau promosi harusnya atletnya yang digebyarkan. Misalnya promosi dengan memanfaatkan televisi di mana setiap satu jam sekali pemegang medali emas dimunculkan. Lalu ditayangkan juga bagaimana kehidupannya. Itu akan membuat banyak anak-anak tertarik, bukan seperti karnaval-karnaval yang sehari saja orang sudah lupa.

"Buat panitia dan pengurus yang terlibat memang bakal lebih senang membuat karnaval karena di situlah yang sistem laporannya bisa dimainkan. Dari kalangan wartawan ayo hidupkan semangat yang sama. Sudah saatnya kritisi itu semua dengan duduk satu meja, buat prioritas biar tidak akan terjadi kebocoran," ujar dia.

Beberapa peristiwa kurang sedap itu dan berkaca dari Jepang sebagai tuan rumah Olimpiade 2020, Tommy menyarankan agar INASGOC juga mulai menggeber promosi ke luar negeri. Dia optimistis pemberitaan bakal lebih ramai. 

"Jepang mengundang mahasiswa dan wartawan dari negara berkembang sebanyak tiga kali dalam satu tahun. Mereka dibawa untuk melihat persiapan atlet Jepang dan bagaimana masyarakat di sana itu menyambut Olimpiade. Itu supaya seluruh dunia ini tahu," tutur Tommy. 

"Sementara kita malah promosi di enam kota. Itu untuk apa? Makanya ada Sekjennya terlibat kasus seperti ini sebenarnya saya sendiri tidak kaget," ungkap dia. 

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar