Begini Proses Satelit Telkom 3S Terbang Menuju Orbit

Satelit Telkom 3S sudah melewati fase pertama masa krusial dan tengah menuju orbit pertama untuk pengetesan. Jika sukses, satelit ini rencananya bisa terus mengorbit mengelilingi bumi hingga 18 tahun.

Telkom 3S tidak terbang sendirian. Satelit ketiga milik Telkom ini terbang bersama Sky Brasil-1 menggunakan roket peluncur Ariane 5 Flight VA235 buatan Arianespace. 

Roket peluncur itu memiliki bobot 780 ton untuk mengangkat kedua satelit itu terbang ke angkasa meski sejatinya bobot di bodi satelit Telkom 3S yang dibikin Thales Alenia Space cuma 3,5 ton dan Sky Brasil-1 sekitar 6 ton.

Thales membeberkan, dalam kontrak proyek turnkey untuk Telkom itu, mereka mengerjakan perancangan, pembangunan, uji coba dan pengorbitan satelit. Perusahaan tersebut juga bertanggung jawab atas peluncuran serta early orbital positioning phase (LEOP) dan in-orbit tests (IOT). 

"Kami juga memasok berbagai suku cadang untuk pusat kendali (control center) serta melatih tim insinyur Telkom secara langsung," kata SVP & Sales Marketing Thales Alenia Space, Martin van Schaik.

Menurutnya, Telkom 3S dibangun berdasarkan kategori satelit Thales Alenia Space Spacebus 4000B2 dengan payload 6,5 kW yang dilengkapi dengan 24 transponder C-band, 8 transponder extended C-band serta 10 transponder Ku-band. 

Secara teori, peluncuran satelit terdiri dari beberapa tahapan dimana setiap stage memainkan peranan yang berbeda. Tahapan pertama, kendaraan peluncur berisi roket-roket dan bahan bakar yang diperlukan untuk mengangkat satelit dan kendaraan peluncur ke angkasa. 

Roket-roket ini haruslah sangat kuat karena bobot dari kendaraan peluncur bisa mencapai ratusan ton. Setelah semua bahan bakar di tangki ini habis digunakan, stage satu tidak diperlukan lagi dan dibuang, dilepaskan jatuh ke bumi.

Stage kedua berisi roket-roket yang lebih kecil yang akan menyala setelah stage satu selesai. Roket-roket stage kedua memiliki tangki bahan bakarnya sendiri. Stage kedua ini digunakan untuk mengirim satelit ke luar angkasa. Seperti pada stage pertama, tangki dan roket dilepas dan dibuang ke atmosfer ketika bahan bakar sudah habis digunakan.

Berikutnya upper stage dari kendaraan peluncur dihubungkan ke tempat pembawa satelit, yang merupakan suatu wadah yang dilapisi metal, dan disebut fairing. Fairing berfungsi melindungi satelit saat proses peluncuran dan memudahkan kendaraan peluncur untuk menjelajah atmosphere Bumi. 

Fairing akan membuka ketika satelit berada diatas lapisan atmosphere dan terbakar ketika memasuki atmosfer. Roket-roket pada upper stage ini menyala setelah satelit berada di luar angkasa dan akan membawa satelit menuju titik orbit yang dituju. 

Satelit kemudian ditempat ke suatu transfer orbit yang akan mengirimkan satelit ke orbit yang lebih tinggi. Setiap satelit berada di titik terjauh (apogee) maka roket utama yang terpasang di satelit dinyalakan. Begitu seterusnya sampai satelit mencapai ketinggian orbit yang diinginkan. 

Selanjutnya panel surya mulai dibuka dan dikembangkan agar satelit mulai mendapat catuan listrik dari sinar matahari, kemudian diikuti dengan dibukanya antena komunikasi.

Roket peluncur yang membawa satelit Telkom 3S itu sendiri berhasil melesat ke angkasa sejak pukul 18.39 waktu setempat di Kourou. Namun baru pada 39 menit kemudian, separasi Telkom 3S berhasil dilakukan. 

"Yang saya tunggu-tunggu adalah sinyal pertama dari satelit, pada saat 10 menit dilepas dari roket. Setelah itu sudah berhasil, insya Allah bisa berputar dengan baik," kata Tonda Priyanto, Kepala Proyek Satelit Telkom 3S.

Apakah itu artinya masa-masa krusial itu sudah lewat? Karena sebelumnya, Tonda sempat bilang bahwa masa krusial dalam peluncuran satelit itu biasa ada di 50 menit pertama.

"Sudah kalau untuk tahap satu, karena setelah ini antenanya terbuka, solar cell-nya juga terbuka. Dalam waktu 10 hari ini baru akan lengkap, dan sudah bisa dioperasikan untuk testing," jelasnya.

Setelah pengetesan berjalan lancar di slot orbit 135,5 derajat bujur timur (BT), dan tiga kali mengelilingi bumi selama 10-15 hari, satelit Telkom 3S ini akan didorong oleh roket peluncur internal untuk masuk orbit 118 BT di ketinggian 36 ribu kilometer dari atas Pulau Kalimantan.

Setelah itu, lanjut Tonda, untuk testing komersialnya baru bisa dimulai pada pertengahan April mendatang. Untuk meluncurkan satelit Telkom 3S ini, Telkom mengeluarkan investasi sebesar USD 215 juta atau setara dengan Rp 2,9 triliun untuk keseluruhan biaya pembuatan satelit, roket peluncur, dan juga asuransinya.

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar