Megahnya GOR Ciracas yang Dibangun di Bekas Lokalisasi Boker

Sebelum Ruang Publik Terbuka Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo, terlebih dulu ada ruang publik yang dibangun di bekas lokalisasi. Ruang publik tersebut adalah Gelanggang Olahraga (GOR) Ciracas di Jakarta Timur.

Satuan pelaksana Gelanggang Olahraga (GOR) Ciracas, Firdaus Akbar, mengatakan sebelum menjadi GOR dulunya lokasi tersebut merupakan tempat prostitusi. GOR yang memiliki luas 32.860 m2 ini dibangun mulai tahun 2005 dan beroperasi sejak 1 Januari 2010.

"Mulai beroperasi sejak tanggal 1 Januari 2010 dan diresmikan pada tanggal 19 April 2012 oleh Gubernur DKI saat itu Fauzi Bowo," ungkap Firdaus saat berbincang dengan detikcom di Kompleks GOR Ciracas, Jakarta Timur, pada Jumat 3 Maret 2017.

GOR Ciracas ini memiliki tiga bangunan yakni gedung utama, stadion sepak bola dan kolam renang berstandar nasional. Sejumkah event olahraga berskala besar dihelat di GOR Ciracas.

"Gedung ini pernah untuk penyelenggaraan POPNAS Tahun 2013 dan Sea Games XXVI Tahun 2011," tambahnya.

GOR Ciracas ini tampak tertata rapi. Ada 70 petugas yang bekerja di GOR Ciracas yang terdiri dari 4 orang PNS dan 66 PHL. GOR Ciracas juga dilengkapi Plaza, tempat fitnes outdoor dan lift.

"Akses masuk gedung olahraga bisa diakses melalui empat tangga yang berada di masing-masing sisi gedung, bisa juga melalui lift. Kemudian ada Plaza Selatan dan Plaza Utara yang biasanya digunakan untuk senam," tuturnya.

Jauh sebelum menjadi GOR nan megah, lokasi tersebut dulunya merupakan lokalisasi Boker. Lahan tersebut kemudian dibebaskan dan disulap menjadi sarana olahraga. GOR tersebut dibangun sejak tahun 2003. 

"Ini dulu dibebasin (tanahnya) mulai tahun 2005. Tahun 2005 sudah jadi lahan kosong. Awal pembangunan GOR dibangun oleh PT Kipra waktu itu selama 2 minggu. Setahun kemudian PT Kipra kalah diambil oleh PT Waskita di tahun 2006 sampai tahun 2010," ucap Satpam GOR, Mulyadi di lokasi yang sama.

Lokalisasi Boker merebak sejak tahun 1975. Hingar bingar musik dangdut selalu berdenyut setiap malam di balik warung remang-remang di lokalisasi tersebut.

"Itu mulai tahun 1975 itu mulai berkembang tapi nggak semua protitusi. Memang ada yang lokasinya (prostitusi) tidak berjauhan dengan warga masyarakat," tuturnya.

Awal Mula Lokalisasi Boker

Mungkin tidak banyak yang tahu asal-usul sebutan lokalisasi Boker yang saat ini dijadikan GOR Ciracas itu. Usut punya usut, prostituai di lokasi tersebut rupanya bermula dari ide para sopir truk yang menjadikan lokasi tersebut sebagai rest area.

"Itu sebenarnya dimulai dari ide sopir-sopir truk. Sebelum ada Tol Jagorawi, Jalan Raya Bogor ini jalan utama yang untuk mobil truk lewat. Ini awalnya tempat pemberhentian truk," kata Mulyadi.

Lalu apa sebenarnya arti 'Boker' itu? Rupanya, kata 'Boker' itu berasal dari salah satu pemilik warung makan sate dan sop. Karena warung itu biasanya dijadikan tempat istirahat para sopir-sopir itu.

"Dulu ada warung pertama itu warungnya Pak Boker. Dia itu hanya dagang makanan sate dan sop. Kemudian para sopir itu nyeletuk kepada Pak Boker, setelah makan rasanya kurang pas kalau tidak ada wanita penghibur," tuturnya.

Menurut Mulyadi, Boker tidak menghiraukan bujukan para sopir. Namun para tetangga yang mendengarkan celetukan sopir tersebut lalu membuat warung-warung minum yang juga menyediakan jasa esek-esek.

"Pak Boker tetap dagang sate sama sop, nggak dagang gituan. Karena ada tetangga sebelah yang dengar akhirnya tetangga itu buka usaha minuman. Jadi kalau sopir itu habis makan di warung Pak Boker pindahlah ke warung minuman itu yang ada ceweknya. Makin lama makin berkembang dah itu," lanjut Mulyadi.

Mulai tahun 2005 barulah ada pembebasan lahan di Lokalisasi Boker untuk pembangunan GOR. Menurutnya selama pembebasan lahan tersebut semua berjalan lancar, tidak ada penolakan warga seperti di Kalijodo.

"Saat pembebasan lahan itu tidak ada masalah. Warga juga nggak masalah. Kalau nggak salah waktu itu saat bulan puasa. Kemudian mereka ada yang pindah ke Bekasi, ada yang ke Bogor dan ada yang geser ke Cipayung," kata Mulyadi.

Rawan Kriminal

Praktik prostitusi di lokasi tersebut diakui oleh Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol Ermayudi. Ermayudi menjadi saksi sejarah perubahan lokalisasi itu menjadi GOR saat dirinya menjabat sebagai Kapolsek Ciracas tahun 2002.

"Saya dulu Kapolsek Ciracas, tahun 2002 itu GOR Ciracas itu sebelumnya menjadi lokalisasi seperti di Kalijodo," ucap Ermayudi.

Selama geliat prostitusi, banyak peristiwa kriminal di tempat itu. Perjudian, perkelahian hingga pembunuhan menjadi kerawanan di lokasi tersebut.

"Perjudian ada juga, perkelahian hampir tiap malam karena di situ menyediakan minuman keras juga. Ada juga pembunuhan yang ditusuk-tusuk, itu sempat terjadi di lokalisasi itu," imbuh Ermayudi.

Hingga pada tahun 2003, pemerintah setempat membebaskan lahan tersebut dan menjadikannya sebagai sarana fasilitas olahraga GOR Ciracas. Kesan rawan kriminal pun lenyap setelah diubah menjadi fasilitas olahraga.

"Saya jadi Kapolsek Curacas itu dari 2002-2003. Tahun 2003 itu sudah mulai ada pembebasan lahan dan dibangunlah GOR Ciracas itu," tutup Ermayudi. 

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar