Mahkota Bagong di Cepoko Jajar

Bagong adalah anak Semar, orang kecil yang tidak neka-neka. Sebagai pelayan ia senantiasa berusaha untuk menghibur tuannya dengan banyolan-banyolan yang mengundang tawa. Jika pun ia harus nembang, pilihan lagunya pun tidak rumit-rumit, tetapi yang mudah, gumyak dan enak dijogedi. Pernyataan-pernyataannya yang lugu, jujur dan apa adanya, seringkali justru dianggap bodoh dan menjadi olok-olokan Gareng dan Petruk saudaranya.

Ketika sedang menjalani kehidupan sehari-hari yang biasa-biasa saja, tiba-tiba Bagong dituduh sebagai biang keladi hilangnya Dewi Durpadi, mustikaning putri Pandawa. Tuduhan tersebut pertama kali dilontarkan oleh Pandita Durna. Hanya dengan membunuh Bagong, niscaya Dewi Durpadi akan diketemukan, demikian kata Pandita Durna saat ditemui Arjuna dan Wrekudara di negara Hastina. Tanpa bepikir panjang, kedua ksatria Pandawa yang adalah murid Durna bergegas menuju Karang Kadempel untuk membunuh Bagong.

Semar pun tidak dapat berbuat banyak ketika Arjuna bendaranya, menyeret Bagong dari hadapannya. Sungguh ironis, Arjuna yang seharusnya menjadi pengayom kawula alit seperti Bagong, justru berperilaku sebaliknya. Kresna sangat prihatin, ia menyayangkan, mengapa Arjuna malahan bertanya dan percaya kepada Pandita Durna yang menyesatkan.

Saking takutnya mendapat perlakuan Arjuna yang sedang kalap, Bagong lari dan jatuh ke dalam jurang. Batara Narada menolong dan mengangkat Bagong dari keterpurukan. Diberinya Bagong pusaka dan mahkota sehingga membuat dirinya bangkit untuk melawan perlakuan yang tidak adil. Dalam perjuangannya melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh tuannya sendiri, Bagong berhasil menjadi ratu di negara Giri Kadasar. Dari sananlah perang melawan ketidakadilan dimulai.

Bagong Ratu itulah lakon yang digelar dalam rupa pentas wayang purwa yang dibawakan oleh Ki Eko Egul S Sn dari ISI Yogyakarta, pada 8 April 2017 di Cepoko Jajar Sitimulyo Bantul. Pentas untuk memperingati hari jadi yang ke-28 muda-mudi Cepoko Jajar tersebut terselenggara atas kerjasama Pepadi Bantul, Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul serta masyarakat setempat.

Menurut Pak Didit kepala Dusun Cepoko Jajar, wayangan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat di dusunnya. Hal tersebut ditengarai dengan beberapa kejadian aneh yang pernah dialaminya semenjak dirinya menjadi dukuh 7 tahun lalu. Pernah suatu hari, ketika dusunnya nanggap wayang dengan lakon Baratayuda Karna Tanding, tiba-tiba dua warga Cepoko Jajar bertikai, seorang diantaranya ditusuk perutnya dengan pisau sehingga ususnya terurai keluar. Namun ia selamat. Pada akhir pentas wayang, beberapa warga ‘tangis-tangisan’ menyesali kejadian tersebut dan saling memaafkan.

Kejadian aneh terulang lagi pada tahun yang berbeda. Saat dusun tersebut memutuskan untuk menggelar wayang dengan cerita Baratayuda Gatotkaca Gugur. Namun tiba-tiba ibu tuan rumah yang mau ketempatan menolak lakon itu. Alasannya ‘Kasihan kesatriya kok mati.’ Yang dimaksud adalah ksatria muda Gatotkaca. Berhubung yang ketempatan tidak berani, lakon Gatotkaca Gugur pun terpaksa dibatalkan, diganti lakon yang lain. Ee tidak tahunya, setelah wayangan, pegawai dari ibu yang masih jejaka meninggal mendadak. Lakon gugurnya ksatria muda (Gatotkaca) dipakeliran dibatalkan, tetapi tidak tahunya gugurnya ksatria muda justru terjadi pada kehidupan nyata.

Dikarenakan pagelaran wayang malam itu tidak untuk merti dusun, lakon yang digelar bukan serial Baratayuda, melainkan lakon Bagong Dadi Ratu. Bagong yang adalah kawula alit berhasil menjadi raja, setelah melewati ujian yang tidak ringan. Jika lakon dalam pewayangan merupakan gambaran dari kehidupan nyata, maka warga Dusun Cepoko Jajar boleh berharap bahwa mahkota Bagong yang dipakai menjadi raja, seusai pentas wayang ditinggal di dusun ini. Mahkota kehidupan yang adalah simbol keluhuran budi dipasrahkan kepada setiap warga, termasuk muda-mudi Cepoko Jajar untuk dijaga dan dijunjung tinggi, dengan menjauhi fitnah keji, iri-dengki, ketamakan dan ujaran kebencian. Dengan demikian warga Dusun Cepoko Jajar akan hidup rukun, seia-sekata, bersatu padu, gotog-royong ‘daya-dinayanan’ membangun setiap pribadi dan lingkungannya.

Sumber : www.tembi.net

Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Posting Komentar